MENGGALI POTENSI USAHA DESA-DESA DEMAK PANTURA BERSAMA WETLANDS INTERNATIONAL INDONESIA


Dua hari ini untuk yang ke sekian kali aku sampaikan materi tentang penggalian potensi usaha desa dalam rangka pembentukan Bumdesa. Dan di sudah di beberapa kesempatan membawakan materi penggalian potensi ini aku sampaikan tidak dengan paparan apa ini apa itu penggalian potensi, tapi lebih banyak ke bagaimana potensi usaha desa itu bisa ditemukan melalui metodologi yang partisipatif. Lebih kepada mengenalkan metodologinya. Banyak sesi pelatihan yang menyenangkan dan dinamis dengan pemilihan metodologi penyampaian materi yang membuat terampil peserta. Bukan sekedar memberi pengetahuan semata. Karena statement umunya dalam pemilihan metoda di sebuah pelatihan adalah “saya mendengar saya lupa, saya melihat saya ingat, saya melakukan saya paham”, maka selama dua hari ini dalam Workshop penggalian potensi dan evaluasi dan perencanaan usaha Bumdesa, aku putuskan untuk sebanyak-banyaknya menggunakan metoda simulasi dan roleplay.


Memiliki Bumdesa  yang memberi kemanfaatan dan keuntungan kepada masyarakat dan pemerintah desa adalah suatu keniscayaan dan impian semua desa. Sehingga keberadaan Bumdesa di desa nantinya akan benar-benar memegang peranan membantu, melayani, memenuhi kebutuhan barang atau jasa masyarakat desa. Dinamika yang demikian bisa terjadi bila keinginan mempunyai lembaga Bumdesa dijalani melalui proses pelibatan masyarakat calon pemanfaat usaha Bumdesa secara partisipatif dalam pemilihan unit usahanya.
Sementara itu di sisi lain, dorongan untuk mendirikan Bumdesa saat ini muncul dari mana-mana yang merupakan respon atas asas kemandirian dan asas subsidiaritas (kewenangan lokal) yang tercantum dalam undang-undang no. 6/2014 tentang desa di mana dengan kemandirian yang kewenangan lokal desa, di dalamnya ada upaya desa dalam mencari sumber pendapatan dari hasil wirausaha desa dengan mengelola sumber daya dan potensi yang ada di desa. Dan entah dari mana dan siapa pencetusnya, misi mendorong untuk mendirikan Bumdesa ini banyak yang berubah menjadi mengharuskan untuk mendirikan Bumdesa. Dan hanya berhenti sampai di sini, tanpa ada fasilitasi dan pembimbingan bagaimana penggalian potensi usaha bisa dilakukan secara partisipatif oleh masyarakat yang akan menjadi pelaku dan pemanfaat jasa dan usaha Bumdesa itu.


Bila dilihat data sampai saat ini, sudah banyak Bumdesa didirikan namun tidak ada kegiatan operasionalisasi unit usaha. Ada yang salah? Sehingga Bumdesa vakum kegiatan usaha? Bahkan bisa-bisanya Bumdesa  tidak dikenal masyarakatnya? yang merupakan akibat dari proses pendirian yang tidak partisipatif. Akibatnya keberadaan unit usaha tidak terdukungnya oleh hukum permintaan dan penawaran barang dan jasa di desa.


 Atas situasi dan kondisi paradoks seperti ini tentunya harus ada yang diperbaiki. Terutama pada  proses fasilitasi pendirian Bumdesa dengan mengedepankan penggalian usaha yang sesuai potensi desa dan analisa usaha di proses berikutnya.
Namun demikian tidak bisa dipungkiri pula, untuk mewujudkan proses rembug desa yang partisipatif tersebut tidaklah semudah men design nya. Banyak latar belakang desa-desa sehingga tidak mampu berproses menggali potensi partisipatif ini, dan ini kait mengakait antara satu sebab dengan sebab lainnya. Yang mana hal ini harus disadari oleh semua pihak harus menjadi fundamen atas terjadinya praktek ber wira usaha desa yang baik melalui Bumdesa. Bagaimana mungkin seseorang bisa berwira usaha dengan baik bila selalu terjadi konflik di rumah tangganya? Bagaimana mungkin seseorang bisa berwira usaha bila karakter kewira usahaan tidak dimilikinya. Bila seseorang punya potensi, rumah tangganya bebas konflik dan jiwa kewirausahaannya menyala-nyala, maka jalan berwira usahanya akan bisa dilaluinya dengan penuh semangat. Ini adalah analoginya sederhana dengan desa. Bila 3 (tiga) hal tersebut bisa terwujud, maka hal-hal yang lainnya seperti ilmu manajemen, ilmu akuntansi, ilmu pemasaran, dan ilmu-ilmu berwira usaha lainnya akan berdatangan dengan sendirinya seiring dengan semangat yang menyala di tubuh orang-orang yang menjadi pelakunya.


Hal ini pula sering aku obrolkan dengan banyak orang, di forum formal maupun informal, dengan kawan sesama pendamping masyarakat di rakor-rakor, dan dengan salah satu kawan NGO yaitu Mas Eko Wetlands International Indonesia yang di Demak yang menggarap issue pelestarian mangrove dan ketahanan masyarakat pesisir. Dari sering ngobrol-ngobrol di warung angkringan dengan Mas Eko Wetlands maka semakin di antara kami saling memahami kesamaan visi yaitu meningkatkan ketahanan masyarakat, adalah masyarakat yang sama juga. Maka kenapa tidak kita kolaborasikan energi menguatkan masyarakat ini khususnya penguatan ekonomi desa dan masyarakat desa.
Singkat cerita, memahami kondisi paradoks bersama Mas Eko Wetlands ini cukup menyemangati kami untuk bersama-sama menguatkan desa-desa binaan Wetlands dalam proses pendirian Bumdesa maupun merevitalisasi pengelolaan Bumdesa yang sudah berdiri.
Untuk itu dengan support dana sepenuhnya dari Wetlands tercapailah kesepakatan untuk menggelar Workshop penggalian potensi usaha desa dan Evaluasi dan Perencanaan Usaha Bumdesa bagi desa-desa binaan Wetlands.


Secara umum bagi desa-desa yang akan mendirikan Bumdesa tujuannya adalah;
Memberikan pembekalan pengetahuan dan keterampilan kepada Aparat Desa, Kader Pemberdayaan Masyarakat  Desa (KPMD)dan Pendamping Lokal Desa (PLD), Pendamping Desa (PD), Kasi Permas agar mampu memfasilitasi Pendirian Bumdesa secara partisipatif.
Sedangkan bagi desa-desa yang sudah berdiri Bumdesa;
Memberikan penguatan kepada pengelola Bumdesa atau merevitalisasi pengetahuan tentang evaluasi dan perencanaan kerja organisasi Bumdesa dan memberikan dukungan kepada pengelola Bumdesa agar mampu secara mandiri mengorganisir kegiatan evaluasi tahun 2017 dan perencanaan tahun 2018.
Dan aku di sini punya agenda lain yang sama pentingnya...yaitu memberikan IST In Service Training  materi penggalian potensi desa kepada para pendamping desa maupun pendamping lokal desa dan memberikan contoh kemitraan dengan lembaga lain dalam kegiatan penguatan kapasitas untuk bisa melakukan hal yang sama minimalnya, bahkan harapanku mereka bisa memodifikasinya lebih baik lagi sehingga pencapaian hasilnya akan lebih besar lagi. Semoga gadhang-gadhanganku ini ada hasilnya..setelah lama aku mencari momentum seperti ini untuk bisa memfasilitasi mereka dengan lebih utuh, tanpa diburu-buru dengan agenda yang lain. Hmh..lega rasanya..



Pada tahap awal perencanaan pelatihan atau workshop ini, sengaja aku menyempatkan waktu untuk melakukan penkajian kebutuhan pelatihan atau training need assesment ke lapangan yaitu ke Timbulsloko dengan ngobrol sana sini dengan calon peserta juga ke Morodemak di waktu sekitar tiga bulanan yang lalu. Dan sejujurnya aku masih merasa terlalu sedikit waktuku untuk assesment ini. lebih karena waktu yang sempit maka aku cukupkan hanya di dua tempat itu saja dan meyakinkan diri cukuplah informasinya untuk diolah menjadi kerangka acuan dan kurikulum workshopnya. Maka jadilah kurikulum workshop dengan kebanyakan menggunakan metoda simulasi atau roleplay. Karena menurut simpulanku dari hasil assesment itu ternyata ranah keterampilan yang paling dominan diperlukan dalam start up Bumdesa ini.


Di sini aku ingin mengajak siapapun yang membaca tulisan ini, untuk lebih banyak memberi bekal  keterampilan kepada peserta pelatihan start up Bumdesa. Juga kepada peserta pelatihan pengelolaan Bumdesa yang sudah berdiri.
Dan setelah pelatihan atau workshop ini selesai, maka tantangan bagiku selanjutnya adalah melakukan monitor atas tindak lanjut dari semua desa dalam berproses menggali potensi usaha sebagaimana keterampilan yang sudah disimulasikan di kelas. Dan untuk para pendamping desa dan pendamping lokal desa yang ikut menjadi peserta pelatihan ini, aku berharap besar mereka mampu mendampingi dan memfasilitasi masyarakat dalam berproses tindak lanjut penggalian potensi maupun perencanaan usaha Bumdesa di tahun 2018 ini. Dan juga harapan kepada alam semesta pantura; semoga tidak terjadi bencana banjir di desa-desa peserta pelatihan ini dan suasana alam, suasana politik desa, suasana sosial kemasyarakatan adem ayem dan kondusif. Sehingga RKTL yang sudah dicanangkan peserta bisa terlaksana dengan lancar.



Kata orang bijak; perencanaan yang baik adalah separuh dari keberhasilan, sedang perencanaan yang buruk...sama saja kita sedang merencanakan kegagalan.
Salam berdaya untuk desa-desa Demak Pantura yang akan mendirikan dan merencanakan usaha Bumdesanya.

Sign up here with your email address to receive updates from this blog in your inbox.

0 Response to "MENGGALI POTENSI USAHA DESA-DESA DEMAK PANTURA BERSAMA WETLANDS INTERNATIONAL INDONESIA"

Post a Comment

Silakan tinggalkan komentar atau pesan!

- Dilarang meninggalkan link pada kolom komentar (kecuali diperlukan).
- Dimohon untuk tidak melakukan spam
- Berkomentarlah secara etis
- Mohon maaf apabila kami tidak sempat membalas komentar Anda
- Terimakasih atas komentar Anda yang relevan