CERITA LAPANGAN DARI DESA BEDONO KECAMATAN SAYUNG DEMAK

Cerita hasil Transek; Trans Sektoral dari Balai Desa ke lokasi

Ditulis : 19 Desember 2016

Kedatanganku ke Kecamatan Sayung kali ini memang sudah aku agendakan. Di mana minggu sebelumnya Pendamping Desa (PD) Kecamatan Sayung Mas Oki meminta diriku datang ke Sayung khususnya ke desa Bedono. Aku juga sering dengar pembicaraan dari banyak pihak tentang Sayung yang di dalamnya terselip pembicaraan desa Bedono. Namun sebelum datang dan melihat sendiri situasi dan kondisi desa Bedono ini, pemahamanku timbul tenggelam sebagaimana biasanya kita bicara sesuatu hal yang belum pernah ada rekaman penglihatan maupun keterlibatan emosional dalam topik pembicaraan tersebut.
Maka cerita lapangan tentang desa Bedono akan aku mulai dari sini;
Saat pertama kali ketemu dengan Kades Baru desa Bedono di Kecamatan. Namanya Agus Salim, baru dilantik menjadi kepala desa pada tanggal 2 November 2016. Semangat baru dan itu ditampakkannya dalam penampilannya. Sehingga energi dan semangat ini sangat mudah dilihat dan dirasakan oleh siapa saja yang terlibat pembicaraan dengannya. Ini adalah karakter baik. Aku suka yang begini ini. Pembicaraan awal seputar flash back sebentar tentang personaliti masing-masing kita. Juga victory atas pemilu kades yang baru lewat. 


Dan itu tidak berlama-lama, pembicaraan langsung kita kerucutkan tentang situasi dan kondisi pembangunan dalam konteks instrumen perencanaannya. Dan pembicaraan ini terhambat karena masing-masing kita tidak ada hand out apapun. Untuk itu karena masih di kecamatan dan pembicaraan ini mengambil tempat di ruangan UPK Sayung di mana di sana juga ada arsip dokumen RPJM Desa yang suatu ketika dulu di tahun 2010 an pernah menjadi bagian dari fasilitasi perumusan RPJM Desa 2010 – 2014 dengan stimulasi DOK RPJM Desa yang ditatausahakan melalui lembaga UPK ini. Ini di masa program nasional PNPM dulu. Akan tetapi sayangnya RPJM Desa Bedono belum ketemu, sementara desa-desa yang lain dengan mudah ditemukan. Sebenarnya pencarian arsip RPJM Desa 2010 – 2014 ini sekedar untuk hand out untuk melihat profile perencanaan pembangunannya seperti apa. Dan keyakinanku situasi dan kondisi 6 tahun yang lalu dengan saat ini tidaklah banyak berubah sehingga visi misi yang berbasis potensi suatu wilayah mestiya tidak jauh range nya. 


Ok lah karena waktu pula kita tidak akan berlama-lama di data sekunder ini, dan Pak Kades mengajak kita segera meluncur ke desa Bedono. Melihat langsung situasi dan kondisinya. Dan bagi kita fokus pengamatan adalah tetap yaitu pada potensi pengembangan dalam pembangunan desa ke depan. 



Sebagaimana menjadi obrolan umumnya bahwa topik-topik pembicaraan tentang Bedono adalah; kepariwisataan, mangrove, abrasi laut, wisata religi. Untuk itu pembicaraan berlangsung dalam suasana transek (tran sektoral) dari Balai Desa ke lokasi wisata Religi yaitu lokasi makam Syeh Mudzakir yang berlokasi di laut.


Jarak Balai Desa ke lokasi makan tidaklah jauh. Dan inilah yang kita temui selama perjalanan;
Kondisi jalan utama masih jalan tanah. Sementara saat ini di lokasi ini sudah menjadi destinasi kunjungan wisata religi dari berbagai daerah. Saat kami lewat saja berpapasan rombongan peziarah yang menggunakan mobil elf.

Dan setelah itu, mobil harus ditinggal, diparkir dengan di sana ada pengelolaan parkir oleh warga. Kita harus berjalan melewati lokal rumah yang sekaligus di situ menjadi tempat menjajakan souvenir, penitipan motor, sewa MCK, dll. Dan dari lorong itulah satu-satunya akses menuju lokasi makam Syeh Mudzakir. Bisa ditempuh lewat berjalan atau ngojek motor dan bisa juga ditempuh dengan ngojek perahu. 


Tampaknya Pak Kades pengin mengajak kita mengojek perahu, siapa takut..sampai dengan tempat dermaga pemberangkatan ojek perahu, beginilah potretnya;
Kondis dermaga pemberangkatan; material dari bambu, perahu yang digunakan perahu motor penangkap ikan kapasitas kecil. Dan seperti itulah suasana rumah di sekitar dermaga pemberangkatan. Apa yang menjadi potensi dan masalah di situasi dan kondisi ini?

Untuk menuju makam Syeh Mudzakir butuh perjalanan sekitar 20 menit bila menggunakan perahu. Yang tampak adalah air laut yang berwarna cokelat karena dangkal. 


Dan beberapa tampak terlihat burung-burung kuntul putih terbang menuju gerumbulan mangrove itu. Konon inilah daratan yang 16 tahun lalu masih berupa areal pertanian dan perikanan. Termasuk tambak dari Kades dan perangkat desa juga lahan serta tempat tinggal warga desa sudah berubah menjadi air laut semacam ini. Heuhff...apa yang bisa dikembangkan dari kondisi ini?


Setelah menempuh perjalanan ojek perahu dengan gelombang laut yang mengasyikkan, kita tiba di tempat pendaratan. Seingatku tidak ada bentuk dermaga seperti di tempat pemberangkatan aku agak lupa di sini...huh.. sepertinya dari perahu langsung lompat ke jalan darat? Aku lupa. Jalan darat ini adalah akses yang digunakan menuju makam ini via ojek motor maupun jalan kaki. Dan saat kita datang ini, di ¾ jarak menuju makam terlihat jalan ini rusak hampir terputus karena terjangan gelombang laut ini.

kita harus berjalan dengan jalan panggung yang terbuat dari kayu bangkire sepanjang kira-kira 200 meter dan sepanjang perjalanan itu kita melihat kondisi hutan mangrove yang auranya terasa gersang. 


Sampah di mana-mana. Suasana terasa gemes melihat sampah-sampah itu. Sepertinya itu dari pengunjung dan sampah yang dibawa sungai di muara sana yang terbawa ke laut dan terdampar di mangrove ini.






Dan di tengah perjalanan kaki ini berdiri bangunan BP SPAM dari program pamsimas. Menggali air tanah untuk keperluan air bersih bagi warga dan sepertinya bagi pengunjung juga.


  Dan setelah jalan panggung itu kita masuk jalan panggung yang terbuat dari cor menuju makam Syeh Mudzakir. Kami bersamaan dengan para peziarah yang saat itu sedang doa bersama.


Tiba saatnya untuk pulang. Perjalanan kaki dari makam Syeh Mudzakir ke dermaga kita ulangi lagi. Sangat menyentuh hati, ditengah suara deburan ombak dan angin pantai yang kuat mempermainkan tubuh ini yang terasa kecil di tengah suasana lepas lautan

 Dan inilah pemandangan kita menuju dermaga tempat kita berangkat. Ada bangunan SD yang langsung bersentuhan dengan laut. Tidak ada jarak sama sekali dari tembok bangunan ke permukaan laut. 

Dan saat kami berjalan menuju tempat parkir, kita melihat para pedagang banyak menyajikan makanan khas lokasi sini yaitu keripik daun mangrove dan buah mangrove ini yang disebut brayo. Penyajian terlihat masih ala kadarnya. Belum tampak packing packaging yang menarik dengan kuat para pengunjung untuk memutuskan harus membeli panganan ini.


What should we do? Based on reality, situation, condition in field? So lets discuss it then act to follow up this piece of information to get meaningfull things for people there...hopefully 

Sign up here with your email address to receive updates from this blog in your inbox.

0 Response to "CERITA LAPANGAN DARI DESA BEDONO KECAMATAN SAYUNG DEMAK"

Post a Comment

Silakan tinggalkan komentar atau pesan!

- Dilarang meninggalkan link pada kolom komentar (kecuali diperlukan).
- Dimohon untuk tidak melakukan spam
- Berkomentarlah secara etis
- Mohon maaf apabila kami tidak sempat membalas komentar Anda
- Terimakasih atas komentar Anda yang relevan